Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2015

Ini sejarah ketupat yang identik dengan makanan lebaran

Sumber: Merdeka.com


Banyak yang menyebut lebaran tanpa ketupat itu tidak lengkap. 

Ketupat plus opor ayam seolah menjadi makanan wajib bagi masyarakat muslim Indonesia saat lebaran tiba.

Namun sejak kapan tradisi lebaran itu harus selalu dengan ketupat? Ternyata kaitan lebaran dengan ketupat punya sejarah panjang dan unik. 

Pada awalnya, ketupat lahir ketika agama Islam mulai masuk ke Nusantara.

Tradisi ketupat ini diperkenalkan oleh Raden Mas Sahid atau yang biasa disebut dengan Sunan Kalijaga. 

Sebenarnya ketupat bagi masyarakat Indonesia yang dulu menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, bukan sesuatu yang luar biasa.

Masyarakat Indonesia, khususnya Jawa sudah mengenal ketupat. 

Namun saat menyebarkan agama Islam. Agar lebih mudah diterima, Sunan Kalijaga memakai strategi akulturasi tradisi ketupat dengan Islam. 

Sunan Kalijaga memperkenalkan Bakda Lebaran dan Bakda Kupat terhadap masyarakat.

Bakda Kupat dilaksanakan seminggu setelah umat Islam melaksanakan puasa sunah di bulan Syawal. 

Perayaan Bakda Kupat ini disusul dengan Bakda Lebaran yang mirip dengan perayaan lebaran saat ini atau orang menyebutnya dengan lebaran kecil.

Berdasarkan filosofi, ketupat yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai kupat atau ngaku lepat, memiliki makna saling mengaku salah.

Hal ini sejalan dengan budaya lebaran yang merupakan momen untuk saling memaafkan dan mengakui kesalahan dengan tulus.

Secara fisik, anyaman ketupat juga merupakan simbol jalan hidup manusia yang penuh dengan permasalahan, penuh dengan liku-liku.

Sementara daun kelapa muda yang mudah dibentuk, masih lentur, dan memiliki kondisi yang masih baik, secara filosofis menggambarkan sifat manusia yang dapat dibentuk, diarahkan, dididik agar hidupnya selalu indah.

Makna simbolis ketupat ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat dalam menyebarkan agama Islam.

Sampai akhirnya tradisi ini masih dipertahankan hingga saat ini. 

Biasanya, ketupat dihidangkan dengan sajian opor ayam yang menambah kenikmatan setelah sebulan berpuasa.

Apalagi disantap bersama dengan sanak keluarga tersayang.

Kamis, 16 Juli 2015

Ini Ucapan Yang Benar Di Hari Raya Idul Fitri

Sumber: Merdeka.com


Memasuki hari raya Idul Fitri, umat Islam di Indonesia sudah terbiasa mendengar atau berucap Minal Aidin Wal Faizin yang kemudian disambungkan dengan kalimat 'Mohon maaf lahir dan batin'.

Seolah-olah Minal Aidin Wal Faizin mempunyai arti mohon maaf lahir dan batin.

Tidak jelas asal muasal tradisi ucapan ini, namun sebenarnya secara harfiah Minal Aidin Wal Faizin berarti 'Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu)'. 

Disebutkan bahwa ucapan berbahasa Arab ini tidak pernah diucapkan di Arab.

Bahkan tidak ada hadis atau ayat yang menjelaskan tentang kewajiban umat muslim mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin.

Sebaliknya para Imam besar, seperti Imam Hanafi, Syafi'i dan Hanbali, umat Islam dianjurkan untuk mengucapkan kalimat lain. 

"Diperbolehkan menyampaikan ucapan selamat Taqabbalallahu Minna wa Minkum atau semoga Allah menerima ibadah kita semua dan Anda," dikutip dari buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mahzab karangan Thariq Muhammad Suwaidan, Rabu (15/7). 

Selain itu, dalam Sunan Al-Baihaqi disebutkan, "Diriwayatkan dari Khalid bin Ma'dan, Ia berkata: Aku bertemu Watsilah bin Asqa' pada hari raya. Aku katakan padanya 'Taqabbalallahu minna wa minka.

Watsilah menanggapi, Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan 'Taqabbalallahu minna wa minka'. Beliau menjawab, 'Ya, Taqabbalallahu minna wa minka'."

Ahli hisab: 1 Syawal akan serempak pada 17 Juli 2015

Sumber: Merdeka.com


Praktisi hisab dan rukyat Muhammadiyah Sumatera Barat (Sumbar) Firdaus AN mengemukakan penetapan 1 Syawal Idul Fitri 1436 Hijriah berpeluang serentak pada 17 Juli 2015.

"Ijtimak akhir Ramadhan 1436 Hijriah terjadi pada Kamis 16 Juli 2015 pukul 08.24 WIB sementara ketinggian hilal sudah mencapai tiga derajat diatas ufuk, dengan demikian kemungkinan besar penetapan Idul Fitri akan serentak," kata dia di Padang, Kamis.

Menurut dia Muhammadiyah telah memutuskan 1 Syawal 1436 Hijriyah jatuh pada 17 Juli sementara pemerintah baru akan melaksanakan sidang istbath penetapan pada 16 Juli, diawali dengan melakukan rukyatul hilal (melihat bulan).

"Berdasarkan kesepakatan ulama internasional atau imkanur rukyat hilal dinyatakan dapat dilihat jika posisinya minimal dua derajat diatas ufuk," kata dia seperti dikutip antara.

Sementara pada 16 Juli posisi hilal sudah berada tiga derajat di atas ufuk sehingga sudah dapat dinyatakan bulan Syawal telah masuk, lanjut dia.

Firdaus mengatakan jika hilal tidak terlihat saat melakukan Rukyatul Hilal kemungkinan karena Indonesia berada di daerah tropis sehingga banyak uap yang menjadi penghalang.

"Secara teori ketinggian hilal tiga derajat diatas ufuk memang sulit terlihat apalagi di Indonesia, namun berdasarkan kesepakatan Syawal sudah dinyatakan masuk," kata dia.

Sementara Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kementerian Agama wilayah Sumbar akan menggelar rukyatul hilal atau melihat bulan untuk menetapkan 1 Syawal 1436 Hijriah di Tabing Padang .

"Rukyatul hilal dilaksanakan pada Kamis 16 Juli menjelang matahari terbenam di shelter evakuasi tsunami Tabing, Koto Tangah," kata Kasubag Humas Kantor Wilayah Kemenag Sumbar M Rifki.

Ia mengatakan rukyatul hilal akan dilakukan sekitar pukul 17.00 WIB dengan menggunakan alat sejenis teropong yang disebut Teodolit untuk melihat posisi bulan.

Setelah melakukan rukyatul hilal, BHR akan langsung melaporkan hasil pengamatannya ke Jakarta untuk kemudian menjadi salah satu masukan dalam sidang isbath penetapan 1 Syawal.

Ia menjelaskan, berdasarkan perhitungan hisab, 1 Syawal 1436 Hijriah jatuh pada 17 Juli.

Namun, dalam menetapkan awal Ramadhan pemerintah melakukan rukyatul hilal dan kemudian ditetapkan melalui sidang isbath yang digelar Kementerian Agama.

Sidang isbath diikuti pakar dan akademisi yang menguasai metode hisab dan rukyat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam, ujar dia.

Kementerian Agama wilayah Sumbar mengimbau masyarakat untuk menunggu keputusan pemerintah dalam berlebaran yang akan diumumkan Kamis malam 16 Juli.