Rabu, 15 Juli 2015

Ukuran Pluto yang sebenarnya akhirnya terungkap


Sejak lama, ilmuwan terus berdebat tentang seberapa besar ukuran Pluto, apakah Pluto cukup besar hingga bisa disebut planet.

Misteri ukuran jugalah yang akhirnya membuat Pluto berhenti disebut planet beberapa tahun silam.

Namun setelah menjadi berdebatan panas selama puluhan tahun, akhirnya ukuran asli Pluto berhasil diketahui seiring dengan semakin mendekatnya pesawat luar angkasa 'New Horizons' ke Pluto.

Dari data yang kirim New Horizons ke NASA, panjang garis tengah Pluto (diameter) sekitar 2.370 kilometer. 

Diameter tersebut lebih panjang sekitar 80 kilometer dari yang diketahui ilmuwan sebelumnya.

Tak ayal, banyak pihak yang mengatakan bila ilmuwan sebaiknya mengembalikan gelar planet pada Pluto.

Akan tetapi, NASA atau ilmuwan astronomi kemungkinan besar tidak akan melakukannya.

Sebab, meskipun terbukti lebih besar, ukuran Pluto tetap hanya sekitar 18,5 persen ukuran Bumi.


Dengan ukuran sebesar itu, Pluto masih terlalu kecil untuk dikatakan sebagai planet mengingat masih banyak objek luar angkasa lain di tata surya kita yang memiliki ukuran sama.

Objek-objek itu berada di sabuk asteroid yang ada di antara planet Mars dan Jupiter.

Selain Pluto, NASA juga berhasil mengetahui panjang garis tengah bulan Pluto, Charon.

Diameter Charon diketahui sekitar 1.208 kilometer. Dengan begitu ukuran Charon adalah 9,5 persen dari ukuran Bumi.

Sumber: Merdeka.com

Selasa, 14 Juli 2015

Bukan gila, ngomong sama diri sendiri menurut peneliti adalah tanda orang jenius

Apa kalian termasuk orang yang punya kebiasaan bergumam atau bicara pada diri sendiri?

Jika iya, tak jarang kalian akan terlihat seperti orang gila ketika bicara sendiri di depan umum.

Atau malah terlihat seperti Gollum, salah satu karakter dari trilogi Lord of the Ring yang suka bicara pada diri sendiri dan mendesis "My precious..."

Tapi jangan kecil hati dulu. Semua orang bisa menilai kalian aneh dan agak gila karena bicara sendiri, padahal kenyataannya kebiasaan ngomong sendiri juga mencerminkan hal positif lainnya.

Sebuah penelitian mengungkap bahwa suka bicara pada diri sendiri adalah salah satu tanda-tanda orang yang jenius.

Sejarah menunjukkan bahwa para jenius seringkali melakukan monolog dengan diri mereka sendiri.

Para pemikir seringkali mencari ide dan pemecahan masalah dengan bicara pada diri sendiri.

Albert Einstein suka ngomong sendiri, dia bahkan tak begitu suka bersosialisasi. Sebuah laporan dari Einstein.org mengungkap bahwa Einstein suka mengulang pemikirannya dengan pelan untuk dirinya sendiri.

Bicara sendiri membuat otak bekerja lebih efektif

Sebuah penelitian di QUarterly Journal of Experimental Psychology yang ditulis oleh psikolog Daniel Swigley dan Gary Lupya mengungkap bahwa berbicara sendiri membuat otak bekerja lebih efektif.

Mereka melakukan penelitian pada 20 orang untuk mencari benda di supermarket.

Mereka menemukan bahwa orang yang memiliki kebiasaan bicara pada diri sendiri bisa lebih cepat menemukan benda yang mereka cari. 

Ini karena kebiasaan bicara pada diri sendiri membuat otak bekerja lebih cepat dan membuat ingatan lebih efektif.


Bayi belajar dengan berbicara sendiri

Menurut LiveScience, bayi belajar untuk berbicara dengan mendengarkan orang dewasa kemudian mencoba meniru dengan berbicara pada diri mereka sendiri. 

Bicara adalah tentang pembelajaran dan latihan, sehingga bayi berbicara berulang-ulang pada diri sendiri untuk bisa lancar berbicara.

Balita juga lebih mudah fokus dengan apa yang mereka pelajari ketika mereka berbicara pada diri sendiri.

Pernahkah kalian melihat balita yang berbicara sendiri ketika bermain mobil-mobilan? Itu juga salah satu cara mereka untuk menyelesaikan masalah.

Berbicara sendiri juga membantu otak untuk mengatur berbagai macam pemikiran yang ada di kepala.

Tak semua orang memiliki cara berpikir yang tertata. Seringkali banyak masalah bercampur aduk dalam kepala.

Berbicara sendiri membantu orang untuk memilah-milah pemikiran mereka sendiri.

"(Berbicara pada diri sendiri) membantu menjernihkan pikiran, menenangkan diri, dan membuat keputusan yang jelas di masa-masa sulit," ungkap psikolog Linda Sapadin.

Jadi, jangan lagi minder jika kalian suka ngomong sendiri, atau ketika teman-teman mengejek kebiasaan tersebut.

Ingat bahwa itu adalah mekanisme alami diri untuk membuat otak bekerja lebih maksimal.

Bayi dan balita punya kebiasaan ngomong sendiri, begitu juga orang-orang jenius di masa lalu.

Sumber: Merdeka.com

Sabtu, 11 Juli 2015

Ajaib! Tetris Ternyata Berguna Buat Kesehatan

Game Tetris, menurunkan trauma pasca peristiwa buruk.

Manusia yang memiliki peristiwa atau kejadian buruk di masa lalu, biasanya akan mengalami trauma, seperti mengalami peristiwa kecelakaan mobil, menjadi korban kekerasan, atau ketakutan terhadap sesuatu.

Jika Anda pernah mengalami kejadian tersebut, ada solusi mudah untuk Anda untuk menghilangkan sedikit traumanya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Medical Research Council Cognition and Brain Science di Cambridge menemukan bahwa trauma seseorang bisa sedikit demi sedikit dihilangkan dengan cara bermain game Tetris.

Permainan teka-teki bangunan yang booming pada tahun 90-an ini, dapat menurunkan ingatan buruk yang terjadi di masa lalu.

Dilansir dari dailymail.co.uk, penelitian tersebut melibatkan 52 orang berusia 18-51 tahun, untuk menonton film traumatis.

Film yang diputar selama 12 menit tersebut menampilkan 11 adegan kematian.

Adegan tersebut dibuat seperti nyata, seperti seorang gadis muda yang tertabrak mobil hingga darahnya menetes keluar dari telinga, seorang pria yang tenggelam di laut, dan masih banyak lagi.

Sehari setelah menonton video tersebut, mereka dibagi menjadi 2 bagian. Satu kelompok diberi beberapa tugas untuk menilai musik klasik, kemudian diminta untuk bermain Tetris.

Sementara satu kelompok lain diberi tugas yang sama, lalu kemudian hanya di suruh istirahat saja, tanpa bermain Tetris.

Pada hari ketujuh, mereka diminta untuk mengisi kuisioner dan tes memori untuk mengkonfirmasi seberapa ingat mereka tentang isi film traumatik tersebut.

Fakta mengejutkan didapat oleh ilmuan tersebut. Kelompok yang bermain game Tetris mengalami 51 persen lebih sedikit kenangan buruk dari pada kelompok yang tidak bermain Tetris.

Kelompok yang bermain Tetris itu, juga mencetak angka yang lebih rendah pada bagian memori otak yang mengganggu yang biasa digunakan untuk diagnosa PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Ilmuwan mengatakan, sebenarnya tidak harus bermain game Tetris saja, control of memory reaction seperti mendengarkan musik klasik sudah cukup mengurangi trauma.

Hanya saja, game Tetris dapat mengurangi kekuatan visual dari memori, sehingga seseorang ingat kejadian buruk yang telah terjadi, tetapi tidak secara detail.

Sumber: Merdeka.com